<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-27676533</id><updated>2011-11-07T16:56:32.789+07:00</updated><title type='text'>Kisah Kecil</title><subtitle type='html'>Experience little wonders in little stories...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kisahkecil.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27676533/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahkecil.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tahmid Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10210157418687042784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/__oMEvzaIm3k/SXgTDhCur-I/AAAAAAAAAB8/Atx4T-IGxb0/S220/Layla+n+Ayah2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27676533.post-8908550906843276635</id><published>2007-06-27T08:29:00.000+07:00</published><updated>2007-06-27T08:41:19.489+07:00</updated><title type='text'>Obat Rindu Untuk Yasmin</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Malam ini Yasmin kelihatan gembira.  Ya, hari ini Ayahnya akan datang ke rumah.  Lho, memangnya ada apa? Mungkin untuk anak-anak yang lain kepulangan ayah mereka ke rumah adalah hal biasa. Tapi tidak bagi Yasmin. Ayahnya adalah seorang pelaut yang bekerja di sebuah kapal pesiar. Kapal itu berlayar ke negara-negara wisata di kawasan Asia. Jika sedang bekerja, Ayah bisa meninggalkan rumah selama hampir 3 bulan. Setelah itu ia akan mendapat jatah istirahat selama satu hingga dua minggu. Itulah sebabnya mengapa Yasmin begitu ceria malam ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Selesai makan malam bersama Mama, Yasmin bergegas naik ke kamarnya di lantai atas. Di bagian depan kamar Yasmin ada balkon kecil dengan kursi goyang kecil dimana Yasmin bisa duduk bermalas-malasan. Dari situ pula Yasmin bisa melihat jauh ke ujung jalan di depan rumahnya. Rupanya ia duduk di situ untuk menanti kedatangan ayahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Langit malam itu cerah. Bintang bertaburan menghiasi bulan yang kebetulan tengah purnama. Cahayanya seolah dipantulkan oleh bintang-bintang dalam kerlap-kerlip keemasan yang memesona. Indah sekali. Yasmin menikmati pemandangan itu di atas kursi goyang kesayangannya. Angin bertiup sepoi menyejukkan. Tanpa sadar Yasmin jatuh tertidur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;“Yasmin…,” sebuah suara lembut menyapa telinga Yasmin. Yasmin terbangun dan menoleh ke arah Mama yang menghampirinya. Ia melihat jam dinding. Pukul 10:20. Seharusnya ayah sudah datang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;“Ayah sudah pulang, Ma?” tanya Yasmin. Mamanya tidak menjawab namun justru balik bertanya “Kenapa kamu tidur di luar?” Saat itu Yasmin langsung tahu bahwa ayahnya pasti tidak jadi pulang malam itu.  “Ayah tidak jadi pulang malam ini kan, Ma?” tebak Yasmin. Mama hanya menghela napas panjang lalu mengelus-elus rambut panjang Yasmin yang hitam legam seperti malam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;“Ayahmu sedang sibuk sekali,” Mama menjelaskan. Dari uraian Mama, Yasmin tahu bahwa bulan-bulan ini adalah bulan liburan. Di saat-saat seperti ini penumpang kapal pesiar tempat ayahnya bekerja pasti tumpah-ruah. Akibatnya Ayah tidak bisa menikmati cuti kerja seperti biasanya karena harus melayani wisatawan-wisatawan tersebut. Menurut Mama, Ayah mungkin baru akan pulang dua minggu lagi. Yasmin tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia menghambur ke tempat tidur dan terisak-isak di balik bantal. Mama cuma bisa menatapnya dengan raut wajah sedih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Keesokan pagi, Yasmin terbangun saat cahaya matahari menerpa wajahnya dari jendela kamar. Jam 8.30. Rupanya ia lelah menangis semalaman sehingga tertidur begitu lama. Ini libur hari pertamanya jadi Yasmin punya banyak waktu untuk bermalas-malasan. Saat ia membalikkan badan, tangannya menyentuh sesuatu. Ternyata itu adalah sepucuk surat. Diamatinya surat itu. “Surat dari Ayah. Pasti Mama yang menaruhnya di sini,” pikir Yasmin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Dengan sedikit malas Yasmin membuka surat itu dan mulai membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:lucida grande;" &gt;Yasmin sayang, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:lucida grande;" &gt;“Ayah harap kamu sehat selalu. Ayah tahu kamu pasti sedih mengetahui Ayah belum bisa pulang. Kamu tahu sayang, Ayah pun sedih sepertimu. Ayah rindu ingin jalan-jalan dan makan bersamamu dan Mama. Kamu tahu apa yang Ayah lakukan jika Ayah sedang rindu kalian berdua? Ayah akan pergi ke anjungan kapal lalu melihat bintang-bintang di langit. Kamu ingat kan rasi bintang Salib yang pernah Ayah tunjukkan padamu? Itulah yang Ayah cari.  Rasi itu menunjuk tepat arah Utara dan Selatan. Di Selatan itulah letak Indonesia, rumah kita. Saat mengamati rasi bintang itu, Ayah seperti melihat jalan pulang. Lalu wajahmu dan Mama akan terbentang di langit. Dan rindu Ayah pun terobati…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:lucida grande;" &gt;Yasmin sayang, Ayah sangat ingin sekali bertemu kamu. Ayah berharap cerita Ayah bisa mengobati rindumu sementara menunggu kepulangan Ayah. Kita pasti segera bertemu untuk berlibur bersama.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:lucida grande;" &gt;Salam kangen, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:lucida grande;" &gt;Ayah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa mata Yasmin berkaca-kaca. Anehnya, kali ini terselip rasa gembira di dalamnya. Entah kenapa surat itu membuatnya bahagia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, seusai santap malam, Yasmin langsung bergegas ke balkon kamarnya. Mama mengamati dengan heran namun bersyukur karena anaknya tidak larut dalam kesedihan. Di atas, sambil duduk di kursi goyang, Yasmin membaca kembali surat dari Ayah tadi pagi. Lalu tatapannya menerawang jauh ke hamparan jutaan bintang di langit. Matanya mencari-cari rasi bintang Salib yang pernah Ayah tunjukkan padanya. Itu dia! Letaknya masih condong di kaki langit karena malam belum larut benar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;br /&gt;Rasi bintang Salib terdiri atas kumpulan 4 bintang besar. Jika ditarik dua garis menghubungkan sepasang bintang, maka akan terbentuk sebuah tanda salib. Garis salib yang lebih panjang itulah yang menunjukkan arah Utara. Arah tempat Ayah kini tengah bekerja di kapal pesiar. Satu lagi menunjuk tepat ke Selatan, tempat Yasmin saat ini berada merindukan ayahnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;br /&gt;Senyum Yasmin mengembang saat melihat kerlip rasi bintang Salib seolah mengerjap makin cemerlang. Senyum yang makin merekah manakala ia melihat wajah ayahnya muncul dan tersenyum di antara kerlip bintang-bintang itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27676533-8908550906843276635?l=kisahkecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahkecil.blogspot.com/feeds/8908550906843276635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27676533&amp;postID=8908550906843276635' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27676533/posts/default/8908550906843276635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27676533/posts/default/8908550906843276635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahkecil.blogspot.com/2007/06/obat-rindu-untuk-yasmin.html' title='Obat Rindu Untuk Yasmin'/><author><name>Tahmid Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10210157418687042784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/__oMEvzaIm3k/SXgTDhCur-I/AAAAAAAAAB8/Atx4T-IGxb0/S220/Layla+n+Ayah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27676533.post-4350266301838301320</id><published>2007-06-27T08:13:00.000+07:00</published><updated>2007-06-27T08:27:15.425+07:00</updated><title type='text'>Ian Sayang Adik</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;“Ibuuu…!” Ian berteriak dari meja belajar di kamarnya. “Pinsil warnaku yang merah hilang lagi!” lanjutnya dengan nada kesal. “Pasti deh dipakai Adik Layla,” Ian menuduh, mukanya merengut kesal. Ini sudah ke sekian kali ia kehilangan pinsil warnanya. Ian tahu persis ini ulah Layla, adiknya yang baru berusia 3 tahun. Ia tahu karena Layla suka sekali mencoret-coret dengan pinsil, pulpen atau apapun yang bisa dipakai menulis. Ian berpikir pasti Layla yang mengambil pinsil itu dan meninggalkannya tercecer entah di mana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;Sejak masih kecil hingga sekarang kelas 4 SD Ian suka sekali menggambar. Mobil sport dan dinosaurus adalah gambar favoritnyanya. Tidak heran dinding kamarnya penuh dihiasi gambar berbagai jenis mobil dan hewan prasejarah tersebut. Ian juga hafal hampir semua nama mobil sport dan negara pembuatnya. Demikian juga dengan dinosaurus. Ia tahu semuanya dari buku dan majalah yang dibacanya. Selain itu, ia juga gemar mencari gambar-gambar dari internet. Ayah yang mengajarinya menjelajah dunia maya tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;“Layla, mana pinsil gambar kakak?” tanya Ian setengah membentak kepada adik bungsunya. Layla cuma menatap sebentar lalu asyik bermain lagi dengan  boneka beruangnya. Ian bertambah kesal. Direbutnya boneka dari tangan adiknya, lalu dibawanya berlari ke lantai atas rumah. Layla cuma bisa menjerit lalu menangis keras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;Ibu yang mendengar keributan itu muncul dari dapur. “Ada apa, Ian?” tanya Ibu lembut. “Kenapa Adik Layla menangis?” tanya Ibu sambil menggendong Layla yang masih terisak-isak sambil menghiburnya. “Adik Layla menghilangkan pinsil warnaku, Ibu!” kata Ian membela diri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;“Coba turun sebentar, sayang” pinta Ibu dengan suara lembut. Ian berjalan menuruni tangga  dengan enggan. “Pasti Ibu membela Adik Layla lagi,” pikirnya dalam hati. “Kembalikan boneka Adik, sayang…” Ibu membujuk. Ian mengembalikan boneka adiknya dengan malas. “Coba duduk dekat Ibu sini,” kata Ibu. “Ibu pasti akan menasehatiku lagi,” keluh Ian di dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;Sambil bersungut-sungut Ian duduk di samping Ibu. “Ian, kamu ingat tidak waktu kamu berusia 3 tahun seperti Adik Layla?” tanya Ibu sambil tersenyum. “Iya, lalu?” tanya Ian sedikit bingung, tidak mengerti ke mana arah pertanyaan Ibu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;“Kamu ingat juga tidak kalau kamu itu sama persis seperti Layla?” Ibu bertanya lagi. Ian bertambah bingung. Ia menggeleng. Ibu meraih pundak Ian dan memeluknya dengan lembut sambil berkata, “Waktu kamu seusia Adik Layla, Ibu sering kebingungan mencari pulpen Ibu.” Ian semakin tidak mengerti. Ia memandang Ibunya dengan muka penuh tanda tanya. Ibu yang menangkap kebingungan Ian tertawa kecil lalu melanjutkan, “Kamu suka menggambar sejak bisa memegang pinsil dan pulpen, sama seperti Adik.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;Ibu lalu bercerita sewaktu masih kecil Ian suka sekali memakai pulpen Ayah atau Ibu untuk mencoret-coret apa saja. Kertas, buku, dinding, juga taplak meja makan. Sesudah puas, Ian akan meninggalkan pulpen itu di mana saja. Kalau sudah begitu, Ayah dan Ibu yang kerepotan mencari-cari pulpen itu ke seluruh tempat. Ibu kerap menemukan pulpen di ruang tamu, di dapur, bahkan sering juga di kolong tempat tidur! Ian tersenyum geli mendengar cerita Ibu. Ayah dan Ibu pasti sering kesal karena ulahnya saat ia kecil dulu, pikirnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;Sekarang Ian mengerti maksud cerita Ibu. Ia paham jika Ibu ingin menerangkan bahwa Adik Layla pasti tidak sengaja menghilangkan pinsil warnanya. Adik Layla masih kecil. Sama seperti ia waktu kecil dahulu. Layla cuma ingin menggambar dan sama sekali tidak mengerti kalau telah menghilangkan pinsil warna kakaknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;“Maafkan kakak ya…” Ian berkata lembut sambil mengulurkan tangan kepada adik kecilnya itu. Layla, dengan mata yang masih basah, menyentuh tangan Ian sambil tersenyum lucu. Mulai saat itu Ian berjanji akan lebih sayang dan belajar untuk lebih mengerti adiknya. Ia juga akan selalu menyimpan baik-baik pinsil warnanya supaya tidak tercecer lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-family: lucida grande;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27676533-4350266301838301320?l=kisahkecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahkecil.blogspot.com/feeds/4350266301838301320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27676533&amp;postID=4350266301838301320' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27676533/posts/default/4350266301838301320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27676533/posts/default/4350266301838301320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahkecil.blogspot.com/2007/06/ian-sayang-adik.html' title='Ian Sayang Adik'/><author><name>Tahmid Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10210157418687042784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/__oMEvzaIm3k/SXgTDhCur-I/AAAAAAAAAB8/Atx4T-IGxb0/S220/Layla+n+Ayah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27676533.post-115300835369808470</id><published>2006-07-16T07:03:00.000+07:00</published><updated>2006-07-16T07:05:53.700+07:00</updated><title type='text'>Kisah Angsana Kecil</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Di suatu siang yang terik tampak sebatang pohon Angsana kecil terayun-ayun diterpa angin kering musim panas. Ia baru saja ditanam oleh petugas taman kota. Angsana adalah pohon peneduh yang banyak tumbuh di pinggir jalan raya dan juga taman-taman kota. Batangnya kuat menjulang. Daunnya hijau langsing dan memanjang serta rimbun. Pohon-pohon ini menjadikan kota hijau dan sejuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;“Sungguh merana aku di sini,” keluh si Angsana Kecil. “Tanah di bawahku begitu kering dan akarku masih terlalu pendek untuk dapat menghisap air jauh ke dalam tanah,” katanya sedih. “Daunku pun belum rimbun. Duh, bagaimana aku bisa bertahan sampai musim hujan nanti?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;“Jangan takut sahabat mungil,” tiba-tiba terdengar suara lembut. Angsana kecil mencari-cari dari mana asal suara itu. Ternyata suara itu milik sebatang pohon Angsana besar yang berdiri kokoh di sebelahnya. Meskipun tinggi dan besar, Angsana Besar ternyata sangat ramah. “Dulu, aku juga kecil sepertimu,” ujarnya. “Aku bahkan hanya punya satu ranting kecil tanpa cabang,” lanjutnya. “Kau juga beruntung, ditanam setelah musim hujan yang cukup panjang”. Tak berapa lama, keduanya saling berbagi cerita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Dari cerita yang dituturkan oleh sahabat barunya, Angsana Kecil tahu bahwa Angsana Besar tidak seberuntung dirinya. Ia ditanam di awal musim panas yang panjang. Sehingga tanah saat itu hanya menyimpan sedikit air. Akibatnya, ia harus pandai berhemat air guna menanti musim hujan berikutnya. Angsana Besar juga bercerita bahwa ia sering diganggu anak-anak nakal. Mereka suka sekali mencabuti daun-daunnya. Ia pernah nyaris gundul karena terlalu seringnya anak-anak itu mencabuti daunnya. Keasyikan mendengar cerita sahabtanya, Angsana Kecil terlupa akan terik yang menyiksanya. Hari yang terik itu berlalu dengan cepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Begitulah hari-hari Angsana Kecil sejak saat itu. Ia selalu asyik berbincang tentang banyak hal dengan teman barunya. Hatinya senang mendapat teman baru yang ramah dan menyenangkan. Ia juga belajar banyak hal. Seperti bagaimana menghemat air di musim kemarau serta cara menjulurkan akar untuk mendapatkan butiran air di dalam tanah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Hari-hari berlalu berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan akhirnya kedua sahabat itu tiba di puncak musim kemarau. Saat dimana udara menjadi begitu panas dan terik. Ditambah lagi asap dari kendaraan yang lalu-lalang bercampur debu membuat udara makin pengap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;“Aduh, aku haus sekali!” Angsana kecil menjerit lemah. “Di mana lagi aku bisa mendapat air?” keluhnya putus asa, “Akarku sudah tak mampu menjangkau lebih dalam lagi dan daunku melayu kepanasan!” Di saat itu pula ia mendengar suara lembut Angsana Besar menghibur, “Bertahanlah sahabat kecilku. Ingatlah semua yang pernah kuceritakan padamu,” katanya membesarkan hati. Angsana Besar kemudian merunduk perlahan-lahan. Ia terus merunduk hingga daun-daunnya menaungi Angsana Kecil dari sengatan matahari yang membakar. Perlahan-lahan Angsana Kecil merasa sejuk dan tenang. Rasa hausnya lambat laun terlupakan. Kekuatan dan semangatnya untuk bertahan muncul lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Setelah beberapa lama, musim panas akhirnya usai. Angsana Kecil dengan bangga menyongsong turunnya rintik air hujan. Angsana Besar sangat bahagia menyaksikan keberhasilan sahabat kecilnya. Seperti itulah dua sahabat tersebut menjalani hari-hari mereka. Menghadapi tantangan dengan saling memberi semangat setiap saat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Tanpa terasa beberapa tahun telah mereka lewati. Angsana Kecil kini telah tumbuh besar. Tingginya hampir menyamai Angsana Besar. Batangnya besar menjulang ditumbuhi cabang-cabang kokoh. Sementara daun-daun lebatnya menaungi orang-orang yang lalu-lalang di tepi jalan. Musim panas yang panjang tidak membuatnya takut lagi. Sekarang, akarnya telah jauh menjulur ke dalam tanah, siap menemukan air di manapun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Betapa bahagianya Angsana Kecil. Ia merasa beruntung dan bersyukur bisa tumbuh menjadi sebatang pohon peneduh yang kuat dan rindang. Namun ia juga sadar, keberhasilannya ini adalah berkat keteguhan serta bantuan Angsana Besar. Sahabatnya yang setia menjaga dan melindunginya dengan penuh ketulusan dan kasih sayang.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27676533-115300835369808470?l=kisahkecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahkecil.blogspot.com/feeds/115300835369808470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27676533&amp;postID=115300835369808470' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27676533/posts/default/115300835369808470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27676533/posts/default/115300835369808470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahkecil.blogspot.com/2006/07/kisah-akasia-kecil.html' title='Kisah Angsana Kecil'/><author><name>Tahmid Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10210157418687042784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/__oMEvzaIm3k/SXgTDhCur-I/AAAAAAAAAB8/Atx4T-IGxb0/S220/Layla+n+Ayah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27676533.post-114700626233268788</id><published>2006-05-07T19:42:00.000+07:00</published><updated>2006-05-09T11:20:17.790+07:00</updated><title type='text'>Sahabat Baru Globi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/3957/3378/1600/Koki1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 280px; height: 210px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/3957/3378/320/Koki1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Di sebuah akuarium air tawar hiduplah bermacam jenis ikan hias. Di situ ada ikan layang-layang. Disebut demikian karena badannya yang pipih berbentuk belah ketupat dengan warna hitam berstrip putih keperakan. Diujung sirip atas dan bawahnya berjumbai indah menjuntai. Jika sedang bergerak cepat, jumbainya melambai-lambai indah seperti buntut layang-layang hias di angkasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Lalu ada sekelompok ikan jenis ‘guppy’ yang berbadan kecil namun mempunyai ekor dan sirip dengan warna-warni yang cerah mencolok. Pada beberapa jenis, ekornya bisa tumbuh melebihi besar tubuhnya. Saat bergerak, kibaran warna ekor pada sekelompok ikan guppy akan tampak seperti parade warna yang indah memesona.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Ada juga ikan mas yang memiliki sisik merah keemasan. Geraknya yang menawan selalu menarik perhatian siapa saja yang mengamati akuarium itu. Lalu ikan koki yang punya bentuk tubuh unik. Ada yang memiliki kantung seperti balon di kedua matanya. Ada pula yang kepalanya bermahkota merah merona. Siapa yang melihatnya pasti kagum dan terheran-heran dibuatnya. Semua ikan dengan bangga memerkan kelebihannya masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Namun di antara penghuni akuarium yang indah dan cantik itu, ada satu penghuni yang berbeda. Ia adalah Globi si ikan sapu. Dinamai ikan sapu karena pekerjaannya serupa dengan penyapu jalanan. Dengan mulut menyerupai alat hisap, Globi gemar menyantap tumbuhan air seperti lumut dan alga yang tumbuh liar di batu dan dinding akuarium. Tubuh Globi tidak menarik. Sepanjang tubuhnya berbercak hitam diselingi sedikit putih dengan sirip berduri yang keras. Karena penampilannya ini, ia sering diejek ikan penghuni akuarium. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;“Ikan sapu? Dari namanya saja sudah tidak menarik!’ begitu cemooh Pila, si ikan layang-layang. “Dengan warna hitam seperti itu, ia memang pantas berada di tempat yang gelap, hihihi!” si Koli ikan koki ikut-ikut mengejek. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Globi hanya dapat berenang menjauh. “Kenapa aku berbeda ya?” tanya Globi dalam hati. Ia sedih karena rupanya yang tidak menarik serta berbeda dari ikan-ikan hias lainnya. Seringkali ia mendengar cemoohan dari ikan hias tentang keadaannya. “Apa yang bisa aku banggakan sehingga mereka mau menjadi temanku?” tanya Globi kepada dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/3957/3378/1600/Guppy4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 252px; height: 163px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/3957/3378/320/Guppy4.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Akibat perlakuan ikan-ikan hias itu, Globi seringkali hanya berdiam di sudut akuarium. Ia baru berani berenang dengan bebas saat malam, karena gelap membuatnya tidak terlihat oleh yang lain.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Suatu hari, semua penghuni akuarium terbangun dengan panik. Pasalnya pagi itu akuarium menjadi gelap. Ternyata, Pak Oding yang biasa merawat akuarium sudah beberapa hari ini sakit. Karena tidak dibersihkan, maka lumut dengan cepat tumbuh di kaca akuarium. Dalam semalam lumut telah tumbuh menutupi hampir seluruh dinding kaca akuarium, menghalangi sinar matahari masuk ke dalam Akuarium. Suasana akuarium menjadi gelap. Akibatnya ikan-ikan bertubrukan karena tidak bisa melihat dengan jelas. “Aduh! Duri siripmu menusuk mataku, Pila!” jerit Malon, ikan koki bermata balon. Suasana jadi gaduh sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Tiba-tiba, “Hey, lihat ada cahaya matahari di sudut itu!” teriak Plati, ikan berekor cabang bak mata pedang. Semua ikan bergegas berenang mendatangi cahaya matahari. Di pojok kolam itu mereka tertegun. Tampak Globi, yang sering mereka ejek, sedang sibuk bekerja membersihkan lumut dengan mulut hisapnya. Sinar matahari menerobos masuk dari dinding kaca yang telah dibersihkan Globi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Globi yang sibuk tidak menyadari kehadiran seluruh ikan penghuni akuarium. Ia terus saja membersihkan dinding akuarium dengan giat. Tiba-tiba ia mendengar suara ramai mengelilinginya. “Ayo, terus Globi! Sikat semua lumut itu!” teriak Tupi, si ikan layang-layang. “Ya, terus Globi! Bersihkan semua, biar kolam kita terang lagi!” Jilo, ikan mas turut menyemangati. Lalu seluruh ikan bersorak memberi Globi semangat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/3957/3378/1600/Sapu-sapu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/3957/3378/320/Sapu-sapu.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Globi senang sekali. Ia seperti mendapat tenaga baru. Kerjanya bertambah cepat dan cepat.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Akhirnya, seluruh dinding akuarium bersih seperti semula. Cahaya matahari menerangi seluruh akuarium. Suasana menjadi tenang kembali dan semua ikan merasa gembira. Mereka berterima kasih kepada Globi karena telah bersusah payah sendirian membersihkan akuarium. “Ah, aku juga tidak akan selesai tanpa bantuan semangat dari kalian,” kata Globi merendah. Ikan-ikan yang dahulu suka mengejek kini meminta maaf. Mereka ingin Globi men jadi sahabat mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;“Tentu saja aku mau!” kata Globi dengan riang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Hari itu Globi bahagia sekali. Ia sadar bahwa dirinya ternyata juga punya kelebihan. Kelebihan yang selama ini tidak pernah disadari oleh teman-temannya, bahkan olehnya sendiri. Ia merasa beruntung. Dan ia berjanji tidak akan menyombongkan kelebihannya itu. Sejak itu, Globi bebas berenang ke manapun ia suka. Karena sekarang, seluruh penghuni akuarium telah menerimanya sebagai teman mereka.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27676533-114700626233268788?l=kisahkecil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahkecil.blogspot.com/feeds/114700626233268788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27676533&amp;postID=114700626233268788' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27676533/posts/default/114700626233268788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27676533/posts/default/114700626233268788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahkecil.blogspot.com/2006/05/sahabat-baru-globi.html' title='Sahabat Baru Globi'/><author><name>Tahmid Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10210157418687042784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/__oMEvzaIm3k/SXgTDhCur-I/AAAAAAAAAB8/Atx4T-IGxb0/S220/Layla+n+Ayah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
